Logo SDIT Alif Smart SDIT ALIF SMART SURAKARTA
Kembali ke Berita

DARI CUBLAK-CUBLAK SUWENG ANAK BELAJAR BERSAMA

02 Oct 2026
DARI CUBLAK-CUBLAK SUWENG ANAK BELAJAR BERSAMA

Tembang Dolanan adalah Cara Anak Indonesia Mengenal Budaya, Belajar Bekerja Sama, dan Bersahabat
Di tengah kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan gawai dan permainan digital, mengenalkan kembali permainan tradisional menjadi sebuah ikhtiar penting. Anak tidak hanya membutuhkan kecakapan akademik, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk bertemu, berbicara, bekerja sama, bergembira, dan belajar memahami orang lain.

Salah satu kekayaan budaya yang dapat dikenalkan kepada anak adalah tembang dolanan Jawa.

Tembang dolanan bukan sekadar lagu yang dinyanyikan anak-anak. Di dalamnya terdapat permainan, gerak, interaksi sosial, bahasa daerah, serta nilai-nilai kehidupan yang dapat dikenalkan secara sederhana sesuai usia anak.

Salah satunya adalah permainan Cublak-Cublak Suweng.

Melalui permainan ini, anak-anak duduk bersama dalam sebuah lingkaran. Mereka menyanyikan tembang, mengikuti aturan permainan, bergantian menjalankan peran, dan berusaha menebak dengan cara yang menyenangkan. Tidak ada anak yang bermain sendirian. Semua terlibat.

Di sinilah sebenarnya proses pendidikan berlangsung.

Cublak-Cublak Suweng, Belajar Bersama melalui Permainan
Ketika anak-anak memainkan Cublak-Cublak Suweng, mereka belajar bahwa bermain bersama membutuhkan aturan dan kesepakatan.

Anak belajar menunggu giliran.
Anak belajar memperhatikan teman.
Anak belajar mengikuti aturan permainan.
Anak belajar menerima ketika tebakannya salah.
Anak belajar menikmati kemenangan tanpa merendahkan teman.
Dan yang tidak kalah penting, anak belajar bahwa kegembiraan akan terasa lebih menyenangkan ketika dibagikan bersama teman-teman.

Nilai yang dapat dikembangkan melalui permainan ini antara lain:

1. Belajar bekerja sama
Permainan tradisional membutuhkan keterlibatan banyak anak. Mereka harus mengikuti alur permainan bersama-sama. Dari sini anak belajar bahwa sebuah kegiatan dapat berjalan dengan baik ketika setiap orang menjalankan perannya.

2. Belajar bersosialisasi
Anak yang terbiasa bermain bersama akan memiliki kesempatan untuk berbicara, melihat ekspresi teman, merespons teman, dan membangun hubungan sosial secara langsung.

3. Belajar menunggu giliran
Tidak semua keinginan dapat dilakukan segera. Anak belajar bersabar dan memberikan kesempatan kepada teman.

4. Belajar menaati aturan
Permainan memiliki aturan yang harus dipatuhi bersama. Ini menjadi latihan sederhana bagi anak untuk memahami bahwa hidup bersama juga membutuhkan aturan.

5. Belajar menerima hasil permainan
Menang dan kalah merupakan bagian dari permainan. Anak dapat belajar bahwa kalah bukan berarti gagal dan menang bukan berarti boleh menyombongkan diri.

6. Belajar percaya dan mempercayai teman
Dalam permainan kelompok, anak belajar membangun rasa percaya kepada teman serta memahami bahwa setiap teman memiliki peran.

7. Melatih komunikasi dan kepekaan sosial
Anak mengamati gerakan, mendengarkan tembang, memperhatikan teman, dan memberikan respons. Semua itu merupakan latihan komunikasi yang sangat berharga.

8. Mengenal bahasa dan budaya daerah
Ketika anak menyanyikan tembang berbahasa Jawa, sesungguhnya mereka sedang berkenalan dengan kekayaan bahasa dan budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Dari Dolanan Menuju Pendidikan Karakter
Yang menarik, pembelajaran melalui permainan tradisional berlangsung dengan cara yang menyenangkan. Anak tidak merasa sedang diberi ceramah tentang kerja sama atau toleransi.

Mereka mengalami langsung.

Ketika harus menunggu giliran, mereka mengalami kesabaran.
Ketika harus mengikuti aturan, mereka mengalami kedisiplinan.
Ketika bermain bersama, mereka mengalami kerja sama.
Ketika berinteraksi dengan teman, mereka mengalami kehidupan sosial.
Ketika kalah, mereka belajar mengelola perasaan.
Ketika menang, mereka belajar tetap menghargai teman.

Inilah kekuatan pembelajaran melalui bermain.

Anak tidak hanya diberi tahu tentang karakter, tetapi mengalami karakter itu dalam kehidupan nyata.

Tembang Dolanan dan Identitas Anak Indonesia
Mengenalkan tembang dolanan kepada anak juga merupakan bagian dari menjaga identitas budaya.

Anak-anak perlu mengenal bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Di Jawa Tengah, misalnya, ada berbagai tembang dan permainan tradisional yang dapat menjadi media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak.

Budaya tidak harus selalu dikenalkan melalui buku dan hafalan.

Budaya dapat dikenalkan melalui suara, gerak, permainan, tawa, dan kebersamaan.

Ketika anak-anak menyanyikan tembang dolanan sambil bermain bersama, sebenarnya mereka sedang membangun hubungan dengan budaya leluhurnya dengan cara yang paling alami: mengalami dan menikmatinya.

Sekolah sebagai Ruang untuk Menghidupkan Kembali Dolanan Anak
Sekolah memiliki peran strategis untuk menghadirkan kembali permainan tradisional dalam kehidupan anak.

Bukan berarti permainan digital harus dihilangkan. Anak perlu dikenalkan pada teknologi sesuai zamannya. Namun, jangan sampai teknologi membuat anak kehilangan kesempatan untuk bermain bersama secara langsung.

Karena ada sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya diberikan oleh layar:

tatapan mata teman, suara tawa bersama, belajar menunggu giliran, berjabat tangan, bekerja sama, dan merasakan menjadi bagian dari sebuah kelompok.

Maka, menghadirkan Cublak-Cublak Suweng di sekolah bukan sekadar mengajarkan lagu Jawa.

Lebih dari itu, sekolah sedang mengajarkan anak untuk bergaul, bekerja sama, menghargai teman, mengenal budayanya, dan menemukan kegembiraan dalam kebersamaan.

Karena Anak Indonesia Perlu Tumbuh Bersama
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang anak yang pintar menjawab soal.

Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu berkata:

“Aku bisa bermain bersama.”
“Aku bisa bekerja sama.”
“Aku bisa menghargai temanku.”
“Aku bangga dengan budayaku.”

Dari sebuah tembang sederhana, dari permainan yang mungkin tampak sederhana, anak sedang belajar sesuatu yang sangat penting untuk kehidupannya:

bahwa manusia tidak hidup sendirian. Kita membutuhkan orang lain, belajar bersama orang lain, dan tumbuh bersama orang lain.

Cublak-Cublak Suweng bukan sekadar dolanan.
Ia adalah ruang kecil tempat anak belajar menjadi manusia yang mampu hidup bersama.

“Mari hidupkan kembali dolanan anak. Karena di balik tembang yang sederhana, ada budaya yang perlu diwariskan, karakter yang perlu ditumbuhkan, dan kebersamaan yang perlu dirasakan.”

Retno Hardyah Astuti S.Pd,.Gr (Guru Mapel Bahasa Jawa)